iWarta.com – Teh kulit salak menjadi salah satu inovasi pemanfaatan hasil samping pertanian yang dikembangkan bersama masyarakat di Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Melalui kegiatan Projek Kepemimpinan, mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Kelompok IPA 003 A mendampingi Sentra Olahan Salak Wonokerto mengolah kulit salak menjadi teh herbal yang berpotensi memiliki nilai ekonomi.

Kegiatan bertajuk “Pemberdayaan Sentra Olahan Salak di Kalurahan Wonokerto, Kecamatan Turi, Sleman melalui Pemanfaatan Limbah Kulit Salak Menjadi Produk Teh Herbal Bernilai Ekonomi” dilaksanakan pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Program ini menggabungkan edukasi, praktik pengolahan, dan pendampingan pengembangan produk untuk mendorong pemanfaatan kulit salak secara lebih optimal.

Teh Kulit Salak, Inovasi dari Potensi Lokal Turi

Kecamatan Turi dikenal sebagai salah satu kawasan penghasil salak di Kabupaten Sleman. Melimpahnya komoditas tersebut turut mendorong tumbuhnya kegiatan pengolahan salak menjadi berbagai produk pangan. Namun, proses produksi juga menghasilkan kulit salak yang belum tentu seluruhnya dimanfaatkan.

Kondisi tersebut menjadi peluang untuk mengembangkan inovasi berbasis sumber daya lokal. Kulit salak yang sebelumnya kurang dimanfaatkan diperkenalkan sebagai bahan baku alternatif untuk membuat teh herbal. Inisiatif ini diharapkan dapat memperluas ragam produk olahan salak sekaligus meningkatkan nilai guna hasil samping pertanian.

Dalam kegiatan ini, mahasiswa PPG UST tidak hanya memperkenalkan gagasan pengolahan, tetapi juga berperan sebagai pendamping yang membantu masyarakat memahami tahapan produksi dan peluang pengembangan produk. Pendekatan tersebut dilakukan agar pengetahuan yang diperoleh dapat dipraktikkan kembali oleh anggota Sentra Olahan Salak Wonokerto.

Mengenal Potensi Antioksidan dalam Kulit Salak

Selain berpotensi dikembangkan sebagai produk ekonomi kreatif, kulit salak juga menarik perhatian dalam penelitian pangan karena mengandung senyawa bioaktif, termasuk kelompok fenolik dan flavonoid. Sejumlah penelitian laboratorium pada ekstrak kulit salak menunjukkan adanya aktivitas antioksidan.

Antioksidan merupakan senyawa yang dapat membantu menetralkan radikal bebas dalam sistem biologis. Temuan tersebut membuka peluang penelitian lebih lanjut untuk mengetahui potensi pemanfaatan kulit salak sebagai bahan minuman berbasis tanaman.

Meski demikian, aktivitas antioksidan yang ditemukan pada ekstrak kulit salak tidak otomatis membuktikan bahwa teh kulit salak yang diseduh memiliki kadar antioksidan yang sama atau memberikan manfaat klinis tertentu bagi manusia. Kandungan senyawa dalam produk akhir dapat dipengaruhi oleh kualitas bahan baku, proses pengeringan, metode pengolahan, dan cara penyeduhan.

Oleh karena itu, teh kulit salak dalam kegiatan ini diperkenalkan sebagai inovasi minuman herbal berbahan lokal yang potensinya masih dapat dikaji lebih lanjut, bukan sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit tertentu.

Mahasiswa PPG UST Dampingi Masyarakat dari Pengolahan hingga Pengemasan

Sebelum kegiatan utama berlangsung, mahasiswa Kelompok IPA 003 A melakukan observasi lapangan, mengidentifikasi kebutuhan mitra, berkoordinasi dengan pengurus Sentra Olahan Salak Wonokerto, melakukan uji coba pengolahan kulit salak, serta menyiapkan materi, alat, dan bahan.

Dalam pelaksanaan kegiatan, masyarakat mengikuti sosialisasi, demonstrasi, dan praktik langsung pembuatan teh kulit salak. Tahapan yang diperkenalkan mencakup pemilihan bahan baku, pencucian, pengeringan, pengolahan, penyeduhan, hingga pengemasan.

Mahasiswa mendampingi peserta selama proses praktik agar setiap tahapan dapat dipahami dan diterapkan dengan memperhatikan kebersihan bahan serta peralatan. Pengolahan yang higienis dan penyimpanan yang sesuai menjadi bagian penting dalam menghasilkan produk pangan yang layak dikembangkan.

Kegiatan juga berlangsung secara partisipatif melalui diskusi dan praktik bersama. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi turut terlibat dalam proses pembelajaran dan pengembangan inovasi teh herbal kulit salak.

Pendampingan Usaha untuk Meningkatkan Nilai Tambah Produk

Pengembangan teh kulit salak tidak berhenti pada proses pembuatan. Mahasiswa PPG UST turut memperkenalkan materi mengenai desain kemasan, pelabelan, analisis usaha, dan strategi pemasaran sederhana.

Kemasan dan label dapat membantu membangun identitas produk, sedangkan analisis usaha membantu masyarakat memperhitungkan kebutuhan bahan baku, biaya produksi, biaya pengemasan, serta penetapan harga jual. Pengetahuan pemasaran juga dapat menjadi bekal untuk mengenalkan produk kepada calon konsumen melalui saluran yang sesuai.

Melalui pendampingan tersebut, masyarakat memperoleh gambaran mengenai langkah-langkah yang diperlukan untuk mengembangkan teh kulit salak sebagai produk bernilai tambah. Keberlanjutan usaha selanjutnya memerlukan perhatian terhadap mutu produk, keamanan pangan, penerimaan konsumen, biaya produksi, dan konsistensi pasokan bahan baku.

Pemanfaatan kulit salak juga sejalan dengan upaya mengoptimalkan sumber daya lokal. Hasil samping pertanian yang sebelumnya kurang dimanfaatkan dapat dieksplorasi menjadi bahan baku alternatif, sehingga peluang diversifikasi produk olahan salak semakin terbuka.

Projek Kepemimpinan Melatih Mahasiswa Berkontribusi bagi Masyarakat

Bagi mahasiswa PPG UST, kegiatan ini menjadi pengalaman menerapkan kepemimpinan melalui program pemberdayaan masyarakat. Setiap anggota Kelompok IPA 003 A menjalankan tanggung jawab sesuai pembagian peran, mulai dari koordinasi, administrasi, keuangan, hubungan masyarakat, logistik, dokumentasi, hingga pengelolaan acara.

Keterlibatan langsung tersebut memberikan pengalaman dalam berkomunikasi dengan mitra, mengenali kebutuhan masyarakat, bekerja sama, serta mengelola kegiatan yang berangkat dari permasalahan nyata di lingkungan sekitar.

Peran pendampingan juga memperkuat pemahaman mahasiswa bahwa pengetahuan perlu disampaikan melalui pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan peserta. Dalam konteks pendidikan profesi guru, pengalaman ini menjadi bagian dari pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, kolaborasi, tanggung jawab, dan pemecahan masalah.

Melalui Projek Kepemimpinan ini, mahasiswa PPG UST berharap inovasi teh kulit salak dapat menjadi salah satu alternatif pengembangan produk di Sentra Olahan Salak Wonokerto. Pendampingan tersebut diharapkan membuka ruang bagi masyarakat untuk terus mengeksplorasi potensi lokal, meningkatkan keterampilan pengolahan, dan mengembangkan peluang usaha secara mandiri.

Inovasi teh kulit salak dari Turi menunjukkan bahwa pemanfaatan sumber daya lokal dapat menjadi titik awal kolaborasi antara dunia pendidikan dan masyarakat. Melalui pendampingan yang partisipatif, mahasiswa tidak hanya belajar memimpin sebuah program, tetapi juga mengambil bagian dalam upaya mendorong pemanfaatan potensi daerah secara lebih produktif dan berkelanjutan.