Perubahan sistem Work and Holiday Visa Australia bagi warga Indonesia menjadi sistem ballot membawa konsekuensi besar bagi pemegang SDUWHV Tahun 2025.
Kelompok pemegang SDUWHV menilai perubahan tersebut menimbulkan ketidakpastian karena mereka telah memperoleh surat dukungan melalui mekanisme resmi pemerintah Indonesia sebelum sistem baru diterapkan.
Dokumen kronologi pemegang SDUWHV menyebutkan bahwa perubahan mekanisme menyebabkan pemegang SDUWHV yang belum melakukan lodgement berada dalam kondisi transisi antara sistem lama dan sistem baru.
Kronologi Perubahan Sistem yang Menimbulkan Polemik
Sebelum perubahan sistem, SDUWHV menjadi tahap awal bagi warga Indonesia yang ingin mengajukan WHV Australia.
Namun, setelah kuota Indonesia mengalami perubahan status dan kemudian masuk tahap penerapan ballot, akses pengajuan tidak lagi berjalan menggunakan mekanisme sebelumnya.
Pada Agustus 2026, sistem Australia mulai memperkenalkan mekanisme ballot untuk Indonesia. Setelah perubahan tersebut, pemegang SDUWHV 2025 yang belum melakukan pengajuan harus mengikuti mekanisme baru.
Tidak Ada Jalur Khusus Bagi Pemegang SDUWHV Lama
Salah satu kritik utama yang muncul adalah tidak adanya mekanisme transisi khusus.
Pemegang SDUWHV mempertanyakan mengapa dokumen yang diterbitkan pemerintah melalui prosedur resmi tidak mendapatkan perlakuan khusus ketika terjadi perubahan kebijakan.
Berdasarkan komunikasi yang tercatat, disebutkan bahwa pemegang SDUWHV 2025 yang belum melakukan lodgement harus mengikuti mekanisme ballot dan tidak terdapat prioritas khusus untuk menggunakan SDUWHV lama secara langsung.
Upaya Pemegang SDUWHV Mencari Kepastian
Para pemegang SDUWHV telah melakukan berbagai upaya, mulai dari komunikasi dengan Kedutaan Besar Australia, KBRI Canberra, KJRI Sydney, Ombudsman, hingga Direktorat Jenderal Imigrasi.
Dalam pertemuan dengan pihak Ditjen Imigrasi pada Agustus 2026, disampaikan bahwa aspirasi mengenai posisi pemegang SDUWHV telah dibawa dalam komunikasi bilateral, tetapi pengaturan transisi belum terbentuk.
Pemerintah Perlu Memberikan Kepastian Administratif
Kasus SDUWHV 2025 menjadi contoh bagaimana perubahan kebijakan publik perlu mempertimbangkan aspek perlindungan administratif.
Ketika masyarakat telah memenuhi persyaratan dan menerima dokumen resmi negara, perubahan sistem idealnya disertai dengan komunikasi yang jelas dan solusi transisi agar tidak menimbulkan kerugian administratif.
Dokumen tersebut memperkirakan sekitar 500 pemegang SDUWHV masih berada dalam posisi terdampak perubahan mekanisme dan membutuhkan kejelasan mengenai keberlanjutan proses mereka.
Polemik SDUWHV 2025 Belum Selesai
Perubahan sistem WHV Australia menuju ballot mungkin menjadi bagian dari perkembangan kebijakan bilateral Indonesia-Australia.
Namun, pertanyaan mengenai nasib pemegang SDUWHV 2025 tetap membutuhkan jawaban, terutama terkait perlindungan terhadap dokumen resmi yang telah diterbitkan pemerintah.
Transparansi, komunikasi publik, dan mekanisme transisi menjadi hal utama yang ditunggu oleh pemegang SDUWHV 2025.
Bukti-bukti
Bukti 1

Bukti 2

Bukti 3

