iWarta.com – Fenomena lagu viral “Mas Bahlil Ganteng” di TikTok memberi sinyal menarik dalam komunikasi politik Indonesia. Lagu ini bukan sekadar hiburan digital. Ia menjadi tanda bahwa Bahlil Lahadalia memiliki daya tarik personal yang kuat dalam ruang budaya populer.
Dalam lanskap media sosial, citra politik tidak lagi hanya dibangun melalui pidato resmi, baliho, talkshow televisi, atau konferensi pers. Hari ini, persepsi publik juga dibentuk oleh algoritma, parodi, remix, komentar netizen, dan percakapan organik di berbagai platform digital.
Fenomena “Mas Bahlil Ganteng” menunjukkan bahwa Bahlil mampu menjadi medium dekompresi politis. Kritik, sarkasme, dan candaan yang semula bernada resistensi dapat berubah menjadi perhatian, kedekatan, bahkan penerimaan publik.
Dari Kritik MBG ke Popularitas Bahlil
Lagu “Mas Bahlil Ganteng” muncul dari percakapan netizen tentang MBG, yaitu Makan Bergizi Gratis. Secara struktural, program tersebut tidak berada langsung dalam tugas pokok Bahlil sebagai Menteri ESDM. Namun, kritik dan parodi publik justru banyak diarahkan kepada dirinya.
Pertanyaannya, mengapa Bahlil yang menjadi sasaran utama candaan netizen? Mengapa bukan pejabat lain yang lebih dekat dengan program tersebut?
Jawabannya terletak pada kekuatan personal branding. Bahlil sudah lebih dulu hadir dalam memori publik sebagai figur politik yang ekspresif, spontan, dan mudah dijadikan bahan percakapan. Ia tidak tampil kaku. Ia juga tidak selalu merespons kritik dengan sikap defensif.
Dalam budaya digital, figur seperti ini lebih mudah diproduksi ulang menjadi meme, lagu, potongan video, dan candaan kolektif. Netizen membutuhkan objek yang kuat secara visual, verbal, dan emosional. Bahlil memenuhi tiga unsur itu.
Pratfall Effect dan Daya Tarik Figur Politik
Dalam psikologi sosial, fenomena ini dapat dibaca melalui konsep pratfall effect. Konsep ini menjelaskan bahwa seseorang yang dianggap kompeten atau berkuasa dapat menjadi lebih disukai ketika ia tampak manusiawi, melakukan kesalahan kecil, atau bersedia menjadi bahan candaan.
Bahlil memiliki modal personal yang cukup unik. Ia dapat mencairkan forum resmi. Ia sering tampil dengan gaya komunikasi yang lugas, spontan, dan humoris. Dalam banyak kesempatan, podium yang formal dapat berubah menjadi ruang komunikasi yang lebih akrab.
Gaya ini membuat publik tidak melihatnya semata sebagai pejabat negara. Publik juga melihatnya sebagai figur yang dekat dengan keseharian. Di titik inilah kritik tidak selalu berkembang menjadi kebencian personal.
Ketika netizen membuat parodi, Bahlil tidak tampak mudah tersinggung. Ketika muncul sindiran, ia tidak selalu merespons dengan jarak kekuasaan. Sikap anti-baper ini menjadi modal komunikasi yang penting dalam politik digital.
Ironic Fandom di Era TikTok
Fenomena “Mas Bahlil Ganteng” juga dapat dibaca sebagai bentuk ironic fandom. Pada awalnya, publik mungkin menjadikan Bahlil sebagai bahan kritik, sindiran, atau parodi. Namun, paparan yang berulang dapat mengubah ironi menjadi rasa akrab.
Dalam budaya internet, rasa suka tidak selalu lahir dari kampanye yang serius. Kadang, ia lahir dari candaan yang berulang. Netizen tertawa lebih dulu, lalu terbiasa, lalu merasa dekat.
Di sinilah terjadi pergeseran persepsi. Figur yang semula menjadi objek kritik dapat berubah menjadi ikon hiburan politik. Kritik tidak hilang, tetapi bentuknya menjadi lebih cair. Sarkasme tidak selalu merusak citra. Dalam kondisi tertentu, sarkasme justru memperluas jangkauan citra politik.
Fenomena ini sejalan dengan logika TikTok. Platform tersebut tidak hanya menyebarkan informasi. Ia juga membentuk emosi kolektif melalui musik, repetisi, komentar, dan tren. Karena itu, lagu “Mas Bahlil Ganteng” bekerja sebagai medium komunikasi politik yang tidak formal, tetapi efektif secara kultural.
Bahlil sebagai Ikon Pop Politik
Menjadi ikon pop politik adalah capaian penting dalam pemasaran politik modern. Pada masa lalu, politisi berlomba masuk halaman depan koran, tampil di televisi, dan memenuhi ruang publik dengan spanduk. Hari ini, medan itu bergeser ke FYP TikTok, Instagram Reels, YouTube Shorts, dan percakapan lintas platform.
Bahlil tidak hanya hadir sebagai aktor politik. Ia mulai bergerak sebagai brand identity dalam budaya digital. Namanya tidak hanya muncul dalam berita kebijakan, tetapi juga dalam lagu, meme, komentar, dan lelucon netizen.
Ini memberi Bahlil posisi yang berbeda dari banyak politisi lain. Ia tidak hanya dikenal. Ia dibicarakan. Ia tidak hanya tampil. Ia diproduksi ulang oleh publik dalam bentuk konten.
Dalam komunikasi politik, situasi ini bernilai strategis. Seorang politisi yang masuk ke budaya populer memiliki peluang lebih besar untuk menjangkau kelompok yang biasanya jauh dari politik formal, terutama Gen-Z.
Modal Komunikasi untuk Program Pemerintah
Popularitas digital Bahlil dapat menjadi modal komunikasi yang besar. Namun, modal ini tidak otomatis menjadi kekuatan politik jangka panjang. Tren digital sangat cepat berubah. Apa yang viral hari ini bisa hilang dalam beberapa pekan.
Karena itu, fenomena “Mas Bahlil Ganteng” perlu dikelola secara cermat. Popularitas organik harus diubah menjadi komunikasi politik yang terencana, konsisten, dan relevan dengan kebutuhan publik.
Jika dikelola dengan baik, citra cair Bahlil dapat menjadi katalisator komunikasi program dan kebijakan pemerintah Prabowo-Gibran. Ia dapat membantu menjembatani bahasa birokrasi yang kaku dengan bahasa publik yang lebih ringan dan mudah diterima.
Namun, komunikasi politik tidak boleh berhenti pada hiburan. Popularitas harus bertemu dengan substansi. Publik tetap membutuhkan kejelasan program, akuntabilitas kebijakan, dan manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Efek terhadap Partai Golkar
Fenomena “Mas Bahlil Ganteng” juga memberi efek tidak langsung kepada Partai Golkar. Sebagai Ketua Umum Golkar, popularitas Bahlil dapat membuka ruang baru bagi partai untuk masuk ke segmen pemilih muda.
Selama ini, Golkar sering dipersepsikan sebagai partai mapan, formal, dan dekat dengan generasi tua. Stigma sebagai “partai bapak-bapak” masih melekat dalam sebagian imajinasi publik.
Popularitas Bahlil memberi peluang untuk menggeser persepsi itu. Golkar dapat tampil lebih terbuka, adaptif, dan relevan dengan budaya digital. Namun, efek ini masih bersifat pasif. Ia belum otomatis berubah menjadi dukungan elektoral.
Golkar membutuhkan kerja marketing politik yang sistematis. Partai perlu menerjemahkan popularitas figur menjadi agenda komunikasi, program anak muda, kaderisasi digital, dan narasi politik yang lebih dekat dengan keseharian Gen-Z.
Penutup
Fenomena “Mas Bahlil Ganteng” menunjukkan bahwa politik hari ini tidak hanya bergerak melalui institusi formal. Politik juga hidup dalam lagu, meme, parodi, dan percakapan ringan di media sosial.
Bahlil berhasil masuk ke ruang itu karena memiliki modal personal yang jarang dimiliki banyak politisi. Ia tampak spontan, humoris, dan tidak mudah tersinggung oleh kritik. Karakter ini membuatnya lebih mudah diterima dalam budaya digital yang cepat, cair, dan penuh ironi.
Namun, viralitas bukan tujuan akhir. Tantangan terbesar Bahlil dan Golkar adalah mengubah tren temporer menjadi brand politik yang kuat, bernilai elektoral, dan berdampak jangka panjang.
Di era algoritma, politisi tidak cukup hanya dikenal. Ia harus relevan. Bahlil sedang berada di titik itu. Pertanyaannya, apakah momentum ini akan menjadi sekadar tren TikTok, atau berubah menjadi kekuatan politik yang lebih serius?
Oleh: Djali Gafur
Direktur Strategi Nusantara Raya

