Sinergi Industri F&B, Pengemasan, dan Percetakan: Kunci UMKM Naik Kelas di Jogja Expo Center 2026

Redaksi
By
Redaksi
4 Min Read

Iwarta.com – Kota Jogja kembali meneguhkan posisinya sebagai magnet industri kreatif dan kuliner di tanah air. Untuk kedua kalinya, gelaran akbar yang menyatukan tiga sektor strategis sekaligus Jogja Food & Beverage Expo, Jogja Printing Expo, dan Jogja Pack & Process Expo 2026 resmi menyapa publik di Jogja Expo Center (JEC) mulai 8 hingga 11 April 2026 mendatang.

Tak tanggung-tanggung, pada ajang kali ini diikuti oleh 110 peserta. Selain itu ada juga 30 pelaku UMKM yang siap naik kelas dengan bersanding bersama pemain industri skala besar.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIJ, Yuna Pancawati mengaku sangat mengapresiasi kolaborasi yang terjalin dalam event kali ini. Sebab, menurutnya, perpaduan di sektor pangan dan pengemasan adalah kombinasi yang tidak bisa dipisahkan dalam industri modern.

“Ini luar biasa sekali karena makanan, minuman, dan kemasan ini ibarat pasangan rasa yang baik untuk wajah yang bagus. Alhamdulillah, Jogja punya keduanya,” katanya, Sabtu (28/3).

Tak hanya itu, bagi Yuna, ekosistem kreatif di Jogjakarta, yang didukung oleh keberadaan kampus, budaya, dan sektor wisata, menjadi energi besar bagi lahirnya tren-tren baru. Mengingat di Kota Pelajar ini, peluang besar bagi produk lokal untuk melakukan uji pasar.

“Pasar kami, terutama generasi Gen Z dan Alpha, sangat cepat mencoba rasa baru. Misalnya perpaduan teh dengan jamu, kopi celup rempah, hingga minuman rendah gula dengan identitas lokal. Melalui expo ini, UMKM bisa melakukan uji produk dalam hitungan hari atau minggu lewat interaksi langsung dengan komunitas dan konsumen,” tuturnya.

Meski begitu, Yuna tetap mengingatkan adanya tantangan klasik seperti konsistensi mutu dan izin edar. Di sinilah peran pengemasan (packaging) menjadi krusial sebagai impresi pertama konsumen.

“Di Jogja sendiri banyak desainer packaging handal dan kami punya Pusat Desain Industri Nasional yang bisa dikolaborasikan dengan gelaran Jogja Packaging Expo ini,” tegasnya.

Senada dengan Yuna, CEO Krista Exhibitions Group, Daud D Salim menjelaskan bahwa kolaborasi tiga pameran ini bukan sekadar ajang pamer mesin atau produk biasa. Pameran ini merupakan upaya membangun ekosistem manufaktur yang terintegrasi dari hulu ke hilir.

“Kami tidak hanya menghadirkan pameran, tetapi membangun ekosistem yang memungkinkan para pelaku industri untuk berkolaborasi, berinovasi, dan bertumbuh,” cetusnya.

Dalam pameran kali ini, lanjut Daud, di JEC, para pengunjung bisa melihat langsung bagaimana bahan baku diolah dengan teknologi food processing terkini, dibungkus dengan kemasan ramah lingkungan, hingga diberi sentuhan visual melalui teknik digital printing resolusi tinggi untuk memperkuat branding. Sisi edukasi dan kompetisi juga menjadi magnet tersendiri.

Di panggung utama, aroma masakan menggugah selera tersaji lewat aksi para koki ternama. Sebut saja Chef Achen dari Rose Brand, Chef Lucky P. Katili dari PT Ikan Dorang, hingga Chef Edli Haryanto yang membagikan resep kekinian mulai dari Mie Mala Chili Oil hingga Sup Asparagus.

Bagi pencinta kopi dan teh, pameran ini jadi surga riset. Ada kompetisi roasting J-ROC hingga Tea Class yang digelar Dewan Teh Indonesia. Di kelas ini, peserta diajak membedah sains di balik perisa teh hingga meracik milk tea sehat tanpa gula.

“Program-program ini dirancang untuk memicu efek domino bagi ekonomi daerah. Kami ingin lahir ide-ide baru yang mampu meningkatkan nilai jual produk UMKM secara signifikan,” tandasnya. (haf)

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *