iWarta.com – Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) mengungkapkan kesulitan dalam memantau keberadaan dan kondisi warga negara Indonesia (WNI) di Iran akibat pemblokiran akses internet yang dilakukan oleh pemerintah Iran. Pemadaman internet ini terjadi di tengah protes besar-besaran yang meletus di berbagai kota di Iran.
Dalam keterangan resmi yang diterima IWarta.com, Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, menyatakan bahwa pembatasan layanan internet di Iran membuat komunikasi dengan WNI di negara tersebut menjadi sangat terbatas. Protes yang dimulai sebagai aksi penolakan terhadap kebijakan pemerintah terkait hak asasi manusia dan kebebasan berekspresi, kini telah menjalar ke sejumlah wilayah, memperburuk situasi politik di negara tersebut.

Kondisi ini membuat pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran kesulitan dalam melakukan pemantauan dan memberikan bantuan konsuler kepada WNI. Sebagian besar WNI yang berada di Iran terpusat di kota-kota seperti Qom dan Isfahan. Meskipun hingga saat ini tidak ada laporan adanya WNI yang terluka atau terlibat langsung dalam aksi protes, pihak Kemlu terus berupaya menjaga komunikasi dengan mereka melalui saluran lain, seperti bantuan telekomunikasi resmi.
“Kami sangat mengkhawatirkan keselamatan dan kesejahteraan WNI di Iran. Oleh karena itu, kami meminta mereka untuk tetap berhati-hati, menghindari kerumunan massa, dan selalu memantau informasi terbaru melalui saluran resmi dari Kedutaan Besar Indonesia,” ujar Retno Marsudi.
Meski Kemlu Indonesia belum memutuskan untuk melakukan evakuasi massal, pemerintah tetap menyiapkan langkah-langkah darurat apabila situasi semakin memburuk. Hingga kini, Kemlu juga terus melakukan koordinasi dengan otoritas setempat untuk memastikan keselamatan WNI yang berada di Iran.
Pihak Kementerian Luar Negeri juga menegaskan bahwa pemblokiran internet yang terjadi di Iran tidak hanya menghambat komunikasi pribadi, tetapi juga mempersulit upaya untuk mendapatkan informasi terbaru terkait perkembangan protes yang terus berkembang.
Tantangan Protes di Iran
Gelombang protes di Iran terjadi setelah kematian Mahsa Amini, seorang wanita Kurdi yang meninggal setelah ditahan oleh polisi moral karena tidak mengenakan hijab sesuai aturan. Aksi tersebut telah memicu demonstrasi besar di berbagai kota, yang kemudian direspons dengan pembatasan kebebasan berbicara, termasuk pemutusan internet secara nasional untuk membatasi pergerakan informasi.
Pemerintah Indonesia terus memantau situasi di Iran, dan masyarakat diimbau untuk mengikuti perkembangan situasi melalui saluran informasi resmi yang disediakan oleh Kemlu RI.
Pemblokiran internet di tengah protes politik dan sosial yang terjadi di Iran menjadi tantangan besar bagi pemerintah Indonesia dalam memastikan keselamatan WNI yang ada di sana. Oleh karena itu, Kemlu mengingatkan agar WNI tetap berhati-hati dan terus mengikuti informasi dari sumber yang terpercaya.

